Minggu, 19 Mei 2019

KEMISKINAN



Oleh: Ar Royyan Ramly
A.    Pendahuluan
1.      Latar Belakang
Kemiskinan memang masalah yang komplek. Selain tergantung pada keadaan ekonomi makro yang stabil, kemiskinan juga terkait dengan kebijkan mikro mengenai penurunan kemiskinan itu sendiri. ditingkat kebijakan, selama ini pendekatan pengentasan kemiskinan cenderung lebih menekankan pembebasan masyarakat miskin dari indikator-indikator konvensional (pemenuhan sandang, pangan, dan papan) yang bersifat serba agregat dan mengabaikan pentingnya pembebasan masyarakat miskin dari hal-hal yang non agregat untuk menumbuhkan self-sustaining capacity, seperti, harga diri (self esteem), kebanggaan (dignity), kemandirian (independence), pengakuan (recognition) dan kebebasan (freedom). Sebagai konsekuensin logisnya pengentasan kemiskinan hanya melestarikan atau memperpanjang mata rantai ketergantungan daripada sebagai upaya memandirikan masyarakat miskin melalui usaha-usaha produktif.[1]
Dimensi kemiskinan, secara dinamis mengalami perubahan dengan mempertimbangkan aspek non-ekonomi masyarakat miskin. Sedikitnya terdapat sembilan dimensi kemiskinan yang perlu dipertimbangkan, yaitu: (a) ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar (papan, sandang, dan perumahan), (b) aksessibilitas ekonomi yang rendah terhadap kebutuhan dasar lainnya (kesehatan, pendidikan, sanitasi yang baik, air bersih, dan transportasi), (c) lemahnya kemampuan untuk melakukan akumulasi modal, (d) rentan terhadap goncangan faktor eksternal yang bersifat individual dan eksternal, (e) rendahnya kualitas sumber daya manusia dan penguasaan sumber daya alam, (f) ketidakterlibatan dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, (h) terbatasnya akses terhadap kesempatan kerja secara berkelanjutan, (i) ketidakmampuan untuk berusaha karena cacat fisik maupun mental, dan (j) mengalami ketidakmampuan dan ketidakberuntungan sosial.[2]
Pembangungan ekonomi akan terhambat dan lambat lajunya dikarenakan kemiskinan serta distribusi yang tidak merata. Bagi negara kaya persepsi kemiskinan berubah dikarenakan tingkat kosumsi minimum yang bisa diterima, yang merupakan garis batas kemiskinan akan berubah. Indikator kemiskinan di Indonesia dilihat dari kesenjangan distribusi pendapatan adalah rasio gini (gini ratio) dan kriteria Bank Dunia. Nilai gini ratio berkisar antara nol dan satu. Bila  gini ratio sama dengan nol berarti distribusi pendapatan amat merata karena setiap bagian penduduk menerima pendapatan yang sama. Namun apabila rasio gini sama dengan satu  menunjukkan terjadi ketimpangan distribusi pendapatan yang sempurna karena seluruh pendapatan hanya dinikmati oleh satu orang saja. Semakin tinggi nilai rasio gini maka semakin timpang distribusi pendapatan seuatu Negara.[3]
Kriteria Bank Dunia mendasarkan penilaian distribusi pendapatan atas pendapatan yang diterima pleh 40 persen penduduk berpendapatan terendah. Kesenjangan distribusi pendapatan dikategorikan tinggi, bila 40 persen penduduk berpenghasilan terendah menerima kurang dari 12 persen bagian pendapatan. Kategori sedang apabila penduduk berpenghasilan terendah menerima penghasilan 12 hingga 17 persen bagian pendapatan. Sedangkan kategori rendah apabila penduduk berpenghasilan terendah menerima lebih dari 17 persen bagian pendapatan.
Selanjutnya garis kemiskinan dilihat melaui BPS menggunakan batas miskin dari besarnya rupiah yang dibelanjakan per kapita sebulan untuk memenuhi kebutuhan minimum makanan dan bukan makanan ( BPS,1994). Untuk kebutuhan makanan digunakan patokan 2.100 kalori per hari. Batas garis kemiskina juga dibedakan antara daerah pedesaan dan perkotaan selama periode tertentu dengan mengalami peningkatan batas garis kemiskinan. [4] Salah satu data kemiskinan yang mengundang polemik panjang adalah data kemiskinan pada Maret 2006. BPS mengumumkan jumlah penduduk miskin naik dari 35,1 juta jiwa (15,97 persen) pada Februari 2005 menjadi 39,30 juta jiwa (17,75 persen) pada Maret 2006 karena kenaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) (Kecuk Suharyanto, 2011). Adapun data kemiskinan makro yang terakhir dikeluarkan BPS adalah posisi Maret 2010 ketika jumlah penduduk miskin 31,02 juta jiwa atau 13,33 persen total penduduk Indonesia. Data ini hanya menunjukkan estimasi jumlah dan persentase penduduk miskin yang berguna  untuk perencanaan serta evaluasi program kemiskinan dengan target geografis.[5]

B.     Analisis dan Pembahasan
1.      Pengertian kemiskinan dan model-model kemiskinan berbagai Negara
Berbicara tentang kemiskinan, pada dasarnya dapat didefinisikan secara sederhana maupun dalam arti luas. Dalam pengertian yang sederhana kemiskinan dapat diterangkan sebagai kurangnya pemilikan materi atau ketidakcukupan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Sementara itu dalam arti yang lebih luas kemiskinan dapat meliputi ketidakcukupan yang lain seperti, rendahnya tingkat pendidikan, rendahnya kesempatan kerja dan berusaha, keterbatasan akses terhadap berbagai hal.
Menurut Nur Rianto kemiskinan dapat ditinjau dari dua sisi. Pertama, kemiskinan absolut adalah mencerminkan dimana banyak jumlah penduduk hidup dibawah garis kemiskinan tertentu dengan perhitungan bedasarkan standar kehidupan suatu Negara. Standar hidup minimal ini akan berbeda dari suatu Negara dengan Negara lain. Kedua, kemiskinan relatif, ini erat kaitannya dengan distribusi pendapatan. Pendapatan nasional yang diterima oleh masing-masing golongan pendapatan, dan kemiskinan ini banyak di temukan di Negara-negara maju.
Kemiskinan juga erat kaitannya dengan pembangunan suatu Negara. Oleh sebabnya ukuran Negara tersebut berkembang berkurangnya angka kemiskinan, pengangguran dan pendapatan yang meningkat. Problem kemiskinan ini banyak di dapat di Negara berkembang, Indonesia salah satunya, merupakan Negara berkembang dengan padat penduduk mencapai 240.000 juta jiwa, juga Indonesia bagian dari Negara kosumsi besar di dunia. Secara konvensional pengertian kemiskinan dapat diartikan sebagai low-income, suatu komunitas berada di bawah garis kemiskinan.
Menurut max-neef et al., dari bukunya M. Nur Rianto ada 6 macam kemiskinan yang di tanggung komunitas. Sebagai berikut :
a.       Kemiskinan subsistensi, dengan penghasilan rendah, jam kerja panjang, perumahan buruk, fasilitas lebih mahal.
b.      Kemiskinan perlindungan, lingkungan buruk (sanitasi, sarana pembuangan sampah, polusi), kondisi kerja buruk, tidak ada jaminan atas pemilikan tanah.
c.       Kemiskinan pemahaman, kualitas pendidikan formal buruk, terbatasnya akses atas informasi yang menyebabkan terbatasnya kesadaran atas hak, kemampuan dan potensi untuk mengupayakan perubahan.
d.      Kemiskinan partisipasi. Tidak ada akses dan control atas proses pengambilasn keputusan yang menyangkut nasib diri atau komunitas.
e.       Kemiskinan identitas, terbatasnya perbauran antara kelompok sosial.
f.       Kemiskinan kebebasan, sters rasa tidak berdaya, tidak aman baik di tingkat pribadi maupun komunitas.[6]
Pengertian ini juga dapat dilihat secara makro (komunitas) maupun mikro (personal). Pertama kemiskinan personal ini merupakan pada skala mikro yang didapati tingkat konsumsi dan pendapatan individu di bawah standar CPI (consumer price index) suatu Negara. Kedua kemiskinan makro (komunitas), yaitu, kemiskinan agregat dari komunitas tersebut sehingga menjadi ukuran kemiskinan Negara. Oleh karena itu angka-angka kemiskinan dalam suatu Negara menunjukkan bahwa Negara tersebut sejathtera atau ketimpangan.
Sejalan dengan pendapat Oscar lewis, seorang antropolog Amerika, berpendapat kemiskinan sebagai ketidaksanggupan seorang atau sekelompok orang untuk memenuhi dan memuaskan keperluan-keperluan dasar materialnya. Artinya juga kemiskinan adalah ketidakcukupan seseorang untuk bisa memenuhi kebutuhan primernya.[7] Dengan demikian kemiskinan terkait langsung dengan pengalaman seseorang, di pedesaan maupun di perkotaan  atau dimanapun yang mengalami kelangkaan, keterbatasan, dan kekurangan dalam pemilihan dan penguasaan atas benda atau tidak ada akses atas sumber daya ekonomi lainnya.
2.      Penyebab kemiskinan
Indikator kemiskinan secara umum mempunyai pendekatan-pendekatan yang menjelaskan akibat kemiskinan dan ketimpangan, di atas setelat kita telisik melalui distribusi pendapatan dan beberapa data BPS, Bank dunia dengan menggunakan rasio gini, pada tahap ini menggunakan tiga pendekatan secara umum, yakni system approach, decision-making model, dan structural approach. Pendekatan pertama, lebih menekankan pada  adanya keterbatasan pada aspek geografi, ekologi, teknologi, dan demografi. Kondisi kemiskinan seperti ini banyak dialami oleh masyarakat yang tinggal di pedalaman perdesaan. Sementara pendekatan kedua, menekankan pada kurangnya pengetahuan, ketrampilan, dan keahlian sebagian masyarakat dalam merespon sumber-sumber daya ekonomi, baik berasal dari dalam maupun dari luar. Pendekatatan ketiga, melihat bahwa kemiskinan itu terjadi karena adanya ketimpangan dalam penguasaan dan pemilikan faktor-faktor produksi, seperti tanah, teknologi dan bentuk kapital lainnya.[8]
Dalam kamus ilmu sosial di Indonesia, kemiskinan ini dikenal dengan istilah “kemiskinan struktural”, kemiskinan yang diderita oleh masyarakat karena struktur sosial masyarakat tidak memberi peluang untuk bisa terlibat dalam menggunakan sumber-sumber daya ekonomi atau kapital lainnya, seperti organisasi dan pengetahuan. Saran dari pendekatan ketiga untuk mengeliminasi kemiskinan adalah dengan menerapkan kebijaksanaan politik pembangunan yang langsung menggidentifikasi dan menghapus sumber-sumber ketimpangan itu sendiri. Pendekatan struktural ini mengiginkan dilakukannya suatu transformasi pada struktur dan politik yang tidak lagi didominasi kelompok elit, tetapi diarahkan pada pemilihan pada orang-orang miskin dengan cara member akses dan kontrol atas sumber daya ekonomi.
Lebih lanjut Sharp, et al (1996.h.173-191) dalam bukunya Mudrajad Kuncoro, mengidentifikasi penyebab kemiskinan dipandang dari sisi ekonomi. Pertama, secara mikro, kemiskinan muncul karena adanya ketidaksamaan pola kepemilikan sumberdaya  yang menimbulkan distribusi yang timpang. Penduduk miskin hanya memiliki sumber daya dalam jumlah terbatas dan kualitas rendah. Kedua  kemiskinan muncul akibat perbedaan kualitas sumberdaya manusia, kualitas sumberdaya manusia yang rendah berarti produktivitasnya rendah, serta upahnya juga rendah.  Ketiga kemiskinan muncul akibat perbedaan akses modal.[9]
Ketiga penyebab kemiskinan ini bermuara pada teori lingkaran setan kemiskinan (vicious circle of poverty), adanya keterbelakangan, ketidaksempurnaan pasar, dan kekurangan modal menyebabkan produktivitas rendah. Rendahnya pendapatan menyebabkan pula rendahnya investasi dan tabungan. Berikut pola siklus lingkaran setan (vicious circle of poverty) : Gambar 1.1
Ketidak sempurnaan pasar,
Ketinggalan,
Keterbelakangan

                                                            Kekurangan modal
                                                                                   
    Investasi Rendah                                                        Produktivitas Rendah

Tabungan Rendah                                        Pendapatan Rendah
Sumber : R. Nurkse (1953) dalam buku Mudrajad Kuncoro, 1997.
            Negara berkembang sampai kini masih memiliki ciri-ciri kemiskinan terutama sulitnya mengelola pasar dalam negerinya menjadi pasar persaingan yang lebih sempurna. Ketika mereka tidak dapat mengelola pembangunan ekonomi, maka kecenderungan kekurangan kapital dapat terjadi, diikuti dengan rendahnya produktivitas, turunya pendapatan riil, rendahnya tabungan, dan investasi mengalami penurunan sehingga melingkar ulang menuju keadaan kurangnya modal. Demikian seterusnya, berputar. Oleh karena itu, setiap usaha memerangi kemiskinan seharusnya diarahkan untuk memotong lingkaran dan perangkap kemiskinan ini.
Dalam mencari inti dari kemiskinan, peneliti akan mencoba menggunakan apa yang disebut Robert Chambers, sebagai deprivation trap atau jeratan kekurangan. Deprivation trap ini terdiri dari lima ketidakberuntungan yang melilit kehidupan orang miskin, yaitu: kemiskinan itu sendiri, kelemahan fisik, keterasingan, kerentanan, dan, ketidakberdayaan. Dari kelima jeratan kekurangan ini, menurut Chambers, yang paling memerlukan perhatian adalah (1) kerentanan, dan (2) ketidakberdayaan. Kerentanan dapat dilihat dari ketidakmampuan dari keluarga miskin untuk menyediakan sesuatu untuk menghadapi situasi darurat seperti datangnya bencana alam, kenaikan BBM atau penyakit yang tiba-tiba menimpa keluarga (subsistensi, menurut James Scott). Kerentanan ini sering menimbulkan poverty rockets atau “roda penggerak kemiskinan” yang menyebabkan keluarga miskin harus menjual harta benda yang paling berharga untuk kebutuhan konsumsi sehingga keluarga itu menjadi semakin dalam Memasuki lembah kemiskinan.[10]
Ketidakberdayaan dianggap faktor yang paling signifikan dalam mendorong terjadinya proses kemiskinan atau pemiskinan, karena proses eksploitasi ada dalam garis ini dalam segala bentuknya. Meskipun substansi dari ketidakberdayaan seringkali muncul dalam bentuk eksploitasi yaitu pemerasan yang dilakukan oleh kelompok yang lebih kuat.

3.      Peran Negara dalam kemiskinan
Pada kurun waktu 1976-1996 kemiskinan di Indonesia dari 40,1 % turun menjadi 11,3 % dari total penduduk Indonesia, kemudian orang miskin meningkat kembali pada periode 1996-1999. Akibat krisis multideminsional yang mendera Indonesia, jumlah penduduk miskin disaat itu pada periode 1996-1998, meningkat tajam dari 22,5 % juta jiwa (11,3 %) menjadi 49,5 juta jiwa (24,2 %) atau bertambah sebanyak 27.0 juta jiwa sumber ini dari BPS pada Tahun 1999.
Krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak pertengahan tahun 1997, diyakini akibat buruk bagi kesejaheraan masyarakat sehingga tingkat kemiskinan juga meningkat. Pada tahun 1996 jumlah penduduk miskin di Indonesia mengalami penurunan dikarenakan terjadi krisis pada tahun 1997 akibatnya jumlah kemiskinan menjadi meningkat. Sehingga pemerintah saat itu mengeluarkan kebijakan yang ada agar permasalahan kemiskinan dapat terselesaikan, antara lain dengan kebijakan inpres desa tertinggal (IDT), jarring pengaman nasional (JPS) yang dikeluarkan pada saat krisis, namun semuanya masih belum dapat menyelesaikan permasalahan ini.[11]
Pada awal-awal Tahun 2000 dikenal dengan era millenium Indonesia dapat terus berbenah diri, pada tataran strategi pemerataan tingkat pendapatan didaerah masing-masing Indonesia mengambil kebijakan desentralisasi dibeberapa daerah yang mendapat perhatian khusus (otonomi khusus) dengan upaya ini pendidikan, kesehatan, dan pertumbuhan ekonomi di daerah akan merata.
Dunia berkata lain dengan program MDGs (Millenium Development Goals) baru-baru ini termasuk Indonesia salah satu anggotanya. Pemerintah telah berusaha mengurangi kemiskinan, dan hampir semua anak laki-laki dan perempuan dapat masuk ke sekolah dasar. Namun, masih menuntut kerja keras dalam bidang yang lain. Tingginya angka kematian ibu melahirkan dan belum cukupnya usaha untuk melindungi lingkungan merupakan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan secara sungguh-sungguh. Walaupun sudah mencapai banyak kemajuan tetapi masih diperlukan kerja keras untuk mencapai semua sasaran MDGs.
Millenium Development Goals (MDGs) atau tujuan pembangunan milenium adalah upaya untuk memenuhi hak-hak dasar kebutuhan manusia melalui komitmen bersama antara 189 negara anggota PBB untuk melaksanakan 8 (delapan) tujuan pembangunan, yaitu menanggulangi kemiskinan dan kelaparan, mencapai pendidikan dasar untuk semua, mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, menurunkan angka kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, memerangi penyebaran HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya, kelestarian lingkungan hidup, serta membangun kemitraan global dalam pembangunan.[12]
Ada berbagai cara untuk mengatasi kemiskinan secara langsung, misalnya menciptakan lapangan kerja yang lebih baik, atau menyediakan jaring pengaman sosial bagi penduduk termiskin. Namun, sebelumnya perlu mengetahui jumlah penduduk miskin lebih dulu. Biro Pusat Statistik (BPS) menghitung berapa biaya 32 keperluan dasar, mulai dari pakaian, rumah, hingga tiket bis. Pada 2008, misalnya, BPS menyimpulkan bahwa untuk bisa membayar semua itu, seseorang memerlukan Rp. 182.636 per bulan. Jika pengeluaran seseorang kurang dari jumlah tersebut, berarti dia berada di bawah “garis kemiskinan.” BPS melakukan survei sosial ekonomi nasional (Susenas) terhadap sampel rumah tangga. Pada 2008, sekitar 35 juta penduduk Indonesia berada di bawah garis kemiskinan. Namun, itu merupakan jumlah nasional. Situasinya berbeda-beda, dari satu daerah ke daerah lain. Hidup di perkotaan, umumnya membutuhkan biaya yang lebih tinggi dibandingkan di perdesaan.
Hematnya ada beberapa alternatif solusi kemiskinan dan juga dalam mewujudkan programnya menuntaskan kemiskinan, Masalah kemiskinan bukan hanya sebagai musuh para bangsa saja, namun kemiskinan juga dapat menghambat proses pengembangan suatu Negara. dalam hal ini pemerintah memiliki peran penting dalam menghilangkan kemiskinan disuatu Negara, namun perlu diketahui bahwa sebenarnya kemiskinan itu belum dapat dihilangkan seutuhnya, tapi yang lebih tepatnya adalah mengurangi terjadinya kemiskinan pada setiap Negara. Untuk dapat mengurangi kemiskinan tersebut berikut ini ada beberapa cara dapat pemerintah lakukan dalam mengurangi kemiskinan, yaitu :
1.      Diadakan pelatihan/kursus agar warga punya keterampilan dan bisa memanfaatkan keterampilannya tersebut untuk mencari nafkah.
2.      Diadakan pendidikan yang benar-benar bebas pendidikan dengan kualitas yang baik agar semua warga bisa mengenyam pendidikan yang berkualitas namun bebas biaya dan mengurangi jumlah warga yang berpendidikan rendah.
3.      Memfasilitasi Usaha Kecil Menegah, agar warga yang punya UKM bisa meningkatkan pendapatan melalui fasilitas yang memadai serta bisa merekrut warga lain untuk di pekerjakan. Dengan begitu pengangguran diharapkan bisa berkurang.
4.      Infrastruktur di daerah-daerah di perbaiki agar akses ke tempat lain bisa lebih mudah dan juga murah, dengan begitu warga miskin di harapkan bisa mencari pekerjaan ke daerah-daerah lain dengan mudah.
5. Menyempurnakan dan memperluas cakupan program pembangunan berbasis masyarakat. Program ini bertujuan untuk meningkatkan sinergi dan optimalisasi pemberdayaan masyarakat di kawasan perdesaan dan perkotaan serta memperkuat penyediaan dukungan pengembangan kesempatan berusaha bagi penduduk miskin. [13]

4.      Ukuran dan kemiskinan di Indonesia
Kendati Indonesia ikut serta dalam kesepakatan global melaksanakan “Millenium Development Goals (MDG)” untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang dicanangkan PBB sejak 2000, namun dalam "Human Development Report 2003" atau "Laporan Pembangunan Manusia Tahun 2003" yang dikeluarkan oleh United Nations Development Program (UNDP) baru-baru ini, menunjukkan bahwa kualitas manusia Indonesia makin memburuk dalam 10 tahun terakhir ini. Dalam laporan ini , Human Development Index (HDI) atau Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia yang diukur dari pendapatan, riil per kapita, tingkat harapan hidup, tingkat buta huruf dan kualitas pendidikan dasarnya, ternyata peringkat Indonesia menurun dari 110 menjadi peringkat 112 dari 175 negara yang dinilai UNDP.
Pada kalangan negara anggota ASEAN, peringkat Indonesia itu jauh dibawah Filipina dan Thailand, bahkan berada dibawah Vietnam. Menurut Laporan UNDP 2003 itu, penurunan IPM Indonesia menunjukkan tidak adanya perbaikan yang berarti dalam kurun waktu 1990 s/d 2001, dilihat dari beberapa indikator penting IPM, terutama pengurangan angka kemiskinan. Disebutkan dalam laporan tersebut bahwa 7,2% penduduk Indonesia masih hidup dalam kondisi kemiskinan absolut, dan 26% anak-anakdi bawah usia 5 tahun mengalami kekurangan gizi yang cukup parah. Selain itu, upaya menekan angka kematian ibu yang melahirkan selama ini juga tidak menunjukkan hasil yang signifikan, sedangkan kualitas pendidikan sekolah dasar makin memprihatinkan. Jumlah anak didik yang bisa menikmati pendidikan sekolah dasar pada 1990-2001 menurun tajam, terutama sejak terjadinya krisis ekonomi-moneter 1997.[14] Berikut data MDGs. Tahun 2010 :

Table. 1.1.
INDIKATOR
1990
SAAT INI
TARGET
STATUS
TUJUAN 1: MENANGGULANGI KEMISKINAN DAN KELAPARAN
Target 1A: Menurunkan hingga setengahnya Proporsi Penduduk dengan Tingkat Pendapatan Kurang dari US$ 1 perhari
1
Kemiskinan (1$ per-hari)
20,6%
7,5%
10%
Telah tercapai
1.1a
Kemiskinan (Nasional)
15,1 %
15,4%
7,5%
Perlu kerja keras
1.1b
Kemiskinan (2$ per-hari)

49,0%

Tinggi

1.2
Indeks kedalaman kemiskinan
2,7%
2,77%

Stagnan

1.2a
Indeks keparahan kemiskinan

0,76%

Stagnan

1.3
Proporsi konsumsi penduduk termiskin
9,3%
9,7%

Stagnan

Target 1B: Meneydiakan seutuhnya Pekerjaan yang produktif dan layak, terutama untuk perempuan dan kaum muda
1.4
Pertumbuhan PDB per proporsi jumlah pekerja

4,3%



1.5
Rasio pekerja terhadap populasi

67,3%



1.6
Proporsi pekerja yang hidup dengan kurang dari $1 per-hari

8,2%



1.7
Proporsi Pekerja yang memiliki rekening pribadi dan anggota keluarga bekerja terhadap jumlah pekerja total

62%

Perlu kerja keras

Target 1C: Menurunkan hingga setengahnya Proporsi Penduduk yang Menderita Kelaparan
1.8
Malnutrisi Anak
35,5%
28,7%
18%
Perlu kerja keras

1.9
Kecukupan konsumsi kalori
9%
6%
5%
Sesuai Target
TUJUAN 2: MENCAPAI PENDIDIKAN UNTUK SEMUA
Target 2A: Menjamin pada 2015 semua anak dimanapun, laki-laki maupun perempuan dapat menyelesaikan pendidikan dasar
2.1
Partisipasi ditingkat SD (APM)
88,7%
94,7%
100%
Sesuai Target
2.1a
Partisipasi ditingkat SMP (APM)
41,9%
66,5%
100%
Sesuai Target
2.2
Proporsi Murid yang bersekolah hingga kelas 5
75,6%
75,6%
100%
Sesuai Target
2.2a
Proporsi Murid yang tamat SD
62,0%
74,7%
100%
Sesuai Target
2.3
Buta Huruf Usia 15-24
96,6%
99,4%
100%
Sesuai Target

Sumber : Agoes Soehardjono MD, 2010.

Dari tabel di atas ada beberapa hal yang dilihat sebagai berikut:
1. Keterangan mengenai status pencapaian hanya diberikan pada indikator-indikator yang memiliki target terukur secara kuantitatif. Untuk indikator yang tidak memiliki target tersebut, catatan khusus diberikan untuk menggambarkan kemajuannya.
2. Bayangan menunjukkan indikator pendukung khas yang digunakan Indonesia untuk melihat perkembangan secara lebih terperinci indikator utama.
3. Untuk menggantikan ketiadaan data tahun 1990 untuk beberapa indikator, digunakan data dari tahun yang terdekat.
4. Penomoran indikator mengacu pada penomoran untuk indikator global.






C.    Penutup
a.      Kesimpulan
Kemiskinan terjadi disetiap Negara, baik Negara-negara maju maupun Negara berkembang. Kemiskinan sering dapat dilihat secara makro (komunitas) maupun mikro (personal). Secara individual menarik kesimpulan dari beberapa tokoh bahwa suatu komunitas tersebut yang pendapatannya di bawah garis kemiskinan. Ini bisa dikatan sebagai kemiskinan digaris mikro. Sedangkan kemiskinan pada garis makro/komunitas terdapat tidak meratanya distribusi pendapatan secara agregat kepada suatu komunitas sehingga mereka berada dibawah garis kemiskinan.
Namun bagi Negara maju kemiskinan ini akan berbeda persepsinya dengan Negara berkembang, di Negara maju kemiskinan individu dianggap memenuhi standar minimum kosumsi per hari digolongkan dalam kategori miskin, sedangkan di Negara berkembang kemiskinan merupakan ketidakmampuan atau ketidakberdayaan individu maupun komunitas dalam kosumsi sehari-hari.
Oleh karenan itu beberapa sebab timbulnya kemiskinan yaitu, Pertama, secara mikro, kemiskinan muncul karena adanya ketidaksamaan pola kepemilikan sumberdaya  yang menimbulkan distribusi yang timpang. Penduduk miskin hanya memiliki sumber daya dalam jumlah terbatas dan kualitas rendah. Kedua  kemiskinan muncul akibat perbedaan kualitas sumberdaya manusia, kualitas sumberdaya manusia yang rendah berarti produktivitasnya rendah, serta upahnya juga rendah.  Ketiga kemiskinan muncul akibat perbedaan akses modal.

b.      Saran
Untuk meningkatkan kembali distribusi pendapatan kepada individu dan masyarakat Negara kembali terus menjalankan programnya melalui kegiatan fisik dan non fisik bagi daerah-daerah terpencil dan berkembang di Indonesia.
Bagi masyarakat terus kembali meningkatkan sumber dayanya, baik skill atau kemampuan intelektualnya agar akses modal dan informasi bisa di dapat secara mudah diakses dalam mewujudkan pengentasan kemiskinan di Indonesia.
Daftar Pustaka
Achmad Fatony, Kebijakan Pengentasan Kemiskinan Berbasis Participatory Poverty Assessment; Kasus Yogyakarta (Hasil Penelitian), Jakarta : LIPI, 2010.
Agoes Soehardjono MD, Peran pemerintah daerah dalam upaya menyukseskan tujuan pembangunan millennium, (millennium development goals,(jurnal), UNIBRAW Malang. 2010.
Asiah Hamzah, Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan dan Kelaparan di Indonesia: Realita dan Pembelajaran Policy Tackling The Poorness And Hunger In Indonesia : Reality And Study, Jurnal AKK, Vol 1 No 1, September 2012
Lincolin Arsyad, Ekonomi Pembangunan, Yogyakarta: STIE YKPN, Cet Kedua, 2004.
M. Nur Rianto Al Arief, Teori Makroekonomi Islam: Konsep, Teori, dan Analisis, Bandung : Alfabeta, 2010.
Mochamad Syawie, Kemiskinan dan Kesenjangan Sosial, Jurnal Informasi, Vol. 16 No. 03 Tahun 2011.
Mudrajad Kuncoro, Ekonomi Pembangunan, Teori, Masalah, dan Kebijakan, Yogyakarta: UMP AMP YKPN, 1997.
N. Gregory Mankin. Teori makaro ekonomi, edisi keempat, Jakarta: Erlangga, 2000.
Ismid Hadad, Pengentasan Kemiskinan Dalam Pembangunan Berkelanjutan dan Perubahan Pola Produksi Yang Ramah Lingkungan ,makalah yang disampaikan pada Lokakarya Pembangunan Hukum Nasional ke-VIII, Tanggal 14-18 Juli 2003 di Kuta, Bali.
Rosa Indriasari, Masalah  dan Cara Penanggulangan Kemiskinan (blogspot). Minggu, 31 maret 2013, diakses  Tanggal 15 November 2013.
Rosa Indriasari


[1] Achmad Fatony, Kebijakan Pengentasan Kemiskinan Berbasis Participatory Poverty Assessment; Kasus Yogyakarta (Hasil Penelitian), (Jakarta : LIPI, 2010). Hlm.123

[2] Asiah Hamzah, Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan dan Kelaparan di Indonesia: Realita dan Pembelajaran Policy Tackling The Poorness And Hunger In Indonesia : Reality And Study, Jurnal AKK, Vol 1 No 1, September 2012.
[3] Mudrajad Kuncoro, Ekonomi Pembangunan, Teori, Masalah, dan Kebijakan, ( Yogyakarta : UMP AMP YKPN, 1997), hlm. 115.
[4] Ibid. hlm. 116.
[5] Mochamad Syawie, Kemiskinan dan Kesenjangan Sosial, Jurnal Informasi, Vol. 16 No. 03 Tahun 2011.

[6] M. Nur Rianto Al Arief, Teori Makroekonomi Islam, Konsep Teori dan Analisis, ( Bandung : Alfabeta, 2010). Hlm. 226.
[7] Ibid. hlm. 229.
[8] Ibid. hlm 234.
[9] Mudrajad Kuncoro, Ekonomi Pembangunan, Teori, Masalah, dan Kebijakan, (Yogyakarta : UMP AMP YKPN, 1987), hlm. 107
[10] Achmad Fatony, Kebijakan Pengentasan Kemiskinan Berbasis Participatory Poverty Assessment; Kasus Yogyakarta (Hasil Penelitian), (Jakarta : LIPI, 2010). Hlm.126.
[11] M. Nur Rianto Al Arief, Teori Makroekonomi Islam, Konsep Teori dan Analisis, ( Bandung : Alfabeta, 2010). Hlm. 239-240.
[12] Agoes Soehardjono MD, Peran pemerintah daerah dalam upaya menyukseskan tujuan pembangunan millennium,(millennium development goals,(jurnal), UNIBRAW Malang. 2010. Hlm.3.

[13] Rosa Indriasari, Masalah  dan Cara Penanggulangan Kemiskinan (blogspot). Minggu, 31 maret 2013, didownload tanggal 15 November 2013.
[14] Ismid Hadad, Pengentasan Kemiskinan Dalam Pembangunan Berkelanjutan dan Perubahan Pola Produksi Yang Ramah Lingkungan ,makalah yang disampaikan pada Lokakarya Pembangunan Hukum Nasional ke-VIII, Kuta, Bali. Hlm.3.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar